Kamis, 12 Januari 2012

Sabtu, 07 Januari 2012

Snapshoot #7: Another Life in Another Shoot


Tidakkah kamu melihat bahwa Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan diantara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.
(QS. Faathir, 35: 27-28)

Kamis, 05 Januari 2012

GAJAH: SALAM DAMAI DARI KAMI

            Merupakan tugas Deep Ecology with Mr. IGP Suryadharma di akhir semester 3, mata kuliah ini yang benar-benar membuat cara berpikir saya berubah 181 derajat 
*Thanks full buat Mr. IGP Suryadharma, Mr. Satino, Mr. Djuwanto*

           Miris memang mendengar banyak media yang memberitakan tentang konflik gajah dengan manusia. Salah satunya adalah pemberitaan di waspada online yang memberitakan tentang kawanan gajah yang merusak pertanian warga di daerah Banda Aceh, tidak hanya merusak namun juga mengejar dan membunuh penduduk sekitar yang mencoba menghalangi gajah tersebut. Selalu saja dalam berita tersebut ditulis dengan headline ‘Gajah Merusak’, ‘Kebun/Pertanian Dirusak Gajah’, atau “Gajah Mengamuk’. Singkat kata, sang Elephas maximus sumatranus atau gajah sumatera selalu mendapat peran antagonis dan diposisikan sebagai penjahat dalam skenario kerusakan yang ditulis dalam pemberitaan. Beberapa hal yang perlu dicermati disini, benarkah gajah yang merusak areal pertanian tersebut? Atau benarkah gajah yang menjadi pelaku utama dalam kerusakan areal pertanian warga tersebut?
            Manusia seringkali menyalahkan alam dan keadaaan yang menimpa dirinya, tanpa menyadari dan merenungkan dalam diri mereka sendiri “mengapa hal itu dapat terjadi kepada mereka?”. Sehingga dalam beberapa pemberitaan saya menemukan judul-judul yang cenderung memojokkan dan menyalahkan sekawanan gajah, seperti berikut:
§  Kawanan Gajah Liar Rusak Kebun Warga Rokan Hilir (berita.liputan6.com – 5 Mei 2011)
§  Delapan Hektare Kebun Sawit Dirusak Gajah (www.antaranews.com – 2 April 2011)
Seandainya saja sekawanan gajah tersebut memiliki kantor berita sendiri dan dapat mengutarakan apa yang mereka rasakan, mungkin judul- judul diatas akan diubah seperti berikut:
§  Kawanan Warga Rokan Hilir Rusak Kebun Gajah Liar
§  Delapan Hektare Rumah Gajah Dirusak Kebun Sawit
Namun sayangnya mereka hanyalah sekawan binatang yang tidak mampu berdemo apalagi protes, tak punya kuasa apapun walaupun tubuh mereka jauh lebih besar ketika tempat tinggal mereka dijajah oleh sekawanan manusia. Tentunya jika kita sebagai manusia mau merenungkan, sungguh kita ini merupakan golongan manusia-manusia egois yang mau menang sendiri tanpa mempedulikan lingkungan dan makhluk hidup lain yang juga hidup disekitar mereka, yang ingin dipahami dan diperhatikan layaknya teman atau sahabat. Manusia membutuhkan tempat tinggal, lahan pertanian, dan berbagai kebutuhan lainnya akan tetapi perlu kita ingat di lain sisi gajah juga membutuhkan hutan sebagai tempat tinggal, mencari makan, dan berkembang biak. Akan tetapi manusia terlalu serakah mengambil apa yang seharusnya menjadi hak dari sekawanan gajah tersebut, tempat tinggal gajah yang nyaman kini berubah menjadi pemukiman warga atau hutan yang dijadikan sebagai tempat mencari makan untuk gajah kini telah disulap oleh manusia menjadi perkebunan kelapa sawit. Satu lagi yang menunjukkan kekejian manusia yang menyulut kemarahan sang gajah, yaitu ketika mereka harus berhadapan manusia dengan suatu benda yang menimbulkan percikan api dan bunyi yang begitu keras hingga membuat salah satu anggota mereka merintih kesakitan dan meregang nyawa, dan dengan kasarnya mengambil gading mereka kemudian menjualnya ke pihak lain demi mendapatkan imbalan uang yang besar. Apakah ini masih dapat dikatakan sebagai ‘manusia’ dalam arti sebenarnya? Manusia yang mempunyai akal, pikiran, dan perasaan yang lebih tinggi derajatnya dari binatang. Hal ini sama dengan “Gusti Allahe Dhuwit, Nabine Jarit” (pepatah Jawa) yang menggambarkan orang yang hidupnya hanya memburu uang atau harta benda, kemewahan, dan kenikmatan sehingga yang ada di dalam otak dan hatinya hanyalah bagaimana mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan hidup itu. Bahkan untuk mendapatkan itu semua ia rela melupakan segalanya, baik itu etika, moral, kebajikan, dan seterusnya. Tidak ada halangan apa pun sejauh itu semua ditujukan untuk mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan termasuk dalam hal ini adalah membunuh gajah demi mendapatkan gadingnya untuk dijual dengan iming-iming harga yang luar biasa tinggi. Apakah masih pantas gajah disebut sebagai pemeran antagonis disini? Tentu saja jawabannya TIDAK! Justru manusia lah yang selalu berperan antagonis dalam setiap kerusakan di bumi ini, manusia yang menyebabkan satu per-satu keindahan di bumi ini berubah menjadi neraka bagi makhluk hidup lain, manusia yang dengan serakahnya mengambil semuanya untuk kepentingannya sendiri.
Sebagaimana pepatah jawa mengatakan “Sopo Gawe Bakal Nganggo”, yang bermakna bahwa siapa pun yang membuat sesuatu dia sendirilah yang akan memakainya. Artinya, bahwa apa pun yang dilakukan seseorang, dia sendirilah yang akan bertanggung jawab. Atau dalam pepatah Jawa yang lain yaitu ”Ngundhuh Wohing Pakarti” yang bermakna sama dengan diatas. Hal ini sesuai, ketika manusia merusak lingkungan tempat tinggal, mengambil hak dari sekawanan gajah tersebut, maka jangan disalahkan jika sekawanan gajah tersebut akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak miliknya, karena itu tempat tinggal mereka, tempat mereka untuk hidup dan bertahan hidup, serta tempat mereka bercengkarama dengan sekawanannya yang lain. Gajah menjadi brutal dengan mengejar manusia dan tak sengaja membunuhnya bukan karena ingin balas dendam, tapi karena mereka tak ingin pembunuhan yang terjadi pada anggotanya terulang kembali. Jika saja gajah-gajah tersebut dapat berdemo layaknya yang dilakukan para mahasiswa di gedung DPR/MPR, gajah tersebut akan mengatakan “kami hanya ingin hidup tentram dan tenang tanpa gangguan, hidup tanpa ada yang mengusik tempat tinggal kami, taukah kalian hai (manusia) bahwa kami kelaparan karena hutan yang menjadi tempat kami untuk mencari makan telah kau ubah menjadi kawasan yang kami (gajah) pun tak tahu apakah itu?”. Sesungguhnya mereka hanya ingin hidup damai bersama manusia, dimana dapat saling menjaga lingkungan satu sama lain.
Dari sini, marilah kita sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang diciptakan mempunyai akal dan pikiran, serta diciptakan menjadi insan yang memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan makhluk lain; kita mulai membenahi sikap dan tingkah laku kita terhadap alam dan lingkungan sekitar. Selain itu mengubah cara berpikir kita yang cenderung egois menjadi berpandangan luas (dari berbagai sisi) termasuk dari sisi ekologi. Sisi ekologi yang tidak hanya menguntungkan manusia semata melainkan juga menguntungkan bagi lingkungan dan makhluk hidup disekitar kita. Sebab, setiap apapun yang kita lakukan di dunia ini maka kita juga yang akan merasakan dampaknya, dan tergantung apakah yang kita lakukan itu baik atau buruk.
“Semoga kita senantiasa menjadi makhluk Tuhan yang tak hanya cinta kepadaNya, namun juga cinta terhadap sesama...”




Sabtu, 31 Desember 2011

Snapshoot #6: Sweet Memories IBE (International Biology Education) in Honeybee Batang-Semarang

"Lebah bisa bikin madu, tapi kamu bisa bikin cinta dihatiku"
(Batang-Semarang, 23 Oktober 2011)

     Akhirnya anak-anak IBE (International Biology Education) UNY bisa liburan juga di semester 3 yang super padat ini, apalagi pikniknya gratis alias gretongan alias nggak bayar alias dibayarin sama pihak kampus ke daerah Batang-Semarang (tau kan? kalau nggak tau...NDESO!). Rasanya tuh kayak ngebelah langit berlapis-lapis, terbang bersama paus akrobatis menuju bintang paling maniiisss (iklan), intinya untuk sejenak bisa melepas kepenatan sama seabreg laporan dan kawan-kawannya itu.:D
      Oke...perjalanan kita mulai dari kampus! Nah, disini yang paling nyenengin soalnya kami semua berangkat dari kampus jam 3 pagi dimana yang lain pada tidur eeehh...kita malah ngumpul di kampus kayak gembel! =,= sampe-sampe ada bapak-bapak yang kebetulan ada di deket kampus itu ngeliatinnya dengan tatapan aneh campur heran dicampur bingung, mungkin kalau kita keluarin apa yang ada di pikiran bapaknya itu dia ngomong gini, "mbak-mas, masih sehat wal'afiat to? Sadar kan? Jam 3 gini mau ngapain ke kampus? nemenin satpam buka gerbang?" (kalau kata Aziz, teman saya paling juga dijawab "sedih ora??"). Tadinya aku udah niat nawaittu kalau ntar selama perjalanan di dalam bis aku mau tidur nyenyak eeee....ternyata nggak bisa (harap dimaklumi kalau teman-teman seperjuangan saya ini tipe-tipe orang yang nggak bisa diem ---->> Ada aja yang diomongin). Nggak terasa sampailah kita ke Temanggung (kota sejuta tembakau) mampir ke masjid buat sholat shubuh! Setelah melakukan kewajiban kita sebagai umat muslim, lanjut lagi perjalanan kita dan akhirnya transit dulu buat makan di daerah eeemmm....mmm....eemmmm... (lupa aku daerah mana, pokoknya ada kamar mandinya trus ada tempat makannya juga wkwkwkkk). 
    
Suasana Makan di Tempat yang Aku Sendiri Lupa Namanya... :D

   Usai makan dan membabat habis semua makanan, kami lanjutkan ke tujuan utama kami yaitu...jeng...jeeenggg..jjeeeeeeeennnnggg... PETERNAKAN LEBAH! Disini kami melihat bagaimana lebah-lebah yang unyu itu bercengkrama satu sama lain dan bercengkrama dengan teman-teman IBE (baca: disengat), contohnya si Isma yang disengat lehernya juga si Udin yang disengat keteknya! Itu ngakak abissss.... :D
Langsung aja dilihat dokumentasinya hanya untuk anda, monggooooo....
(diambil dengan kamera Canon EOS 1000D)




Bahwa madu mempunyai berbagai khasiat untuk kesehatan manusia, antara lain tercantum dalam Kitab Suci Weda yang kurang lebih menyatakan: "Hidup manusia akan diperpanjang dan diawetkan jika dalam makanannya sehari-hari selalu ada madu…..," (Kompas, 15 November 1988)




"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia," kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan."
(QS. An-Nahl: 68-69)

*dan paginya kami dapat kabar bahwa hari itu Ujian Tengah Semester Mata Kuliah BSM, aaaaarrrrgggghhhhh...!!!! (//,\\)

Snapshoot #5: Mushroom Must Bloom

"Mbak, jual obat pembasmi jamur cinta nggak? Hati saya jamuran kalau lihat wajah mbak"
(Bukit Pronojiwo Kaliurang, 13 November 2011 11:54 am)


     Kalau bukan karena tugas mata kuliah ekologi, mungkin saya nggak akan pernah tau kalau ternyata di bukit Pronojiwo daerah Kaliurang Yogyakarta itu banyak banget ditemukan beberapa spesies jamur (tapi saya kurang tau nama spesies dari jamur yang bersangkutan, maklum kemaren lupa nanya nama sama nomer hapenya akhirnya saya putuskan untuk nanya alamat facebooknya eeehh...nggak taunya dikasih alamat palsu. Looohh??!!!). Bersama ketiga rekan saya, kami menuju kesana (sebenarnya banyak orang tapi kelompok saya emang cuma bertiga yaitu Dananty Vinartika, Fanny Hadi Setyorini, dan rekan saya yang paling geje Galih Dwi Jatmiko S.
Berikut hasil jepretannya (camera Panasonic tipe DMC-FS42), cekidot!!!








"Jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak bisa berfotosintesis untuk membuat makanan. Kebanyakan jamur hidup sebagai parasit atau saprofit dengan memakan makhluk yang telah mati menggunakan akarnya sebagai alat hisap. Dan ini juga salah satu hal yang membedakan jamur dengan tanaman" 

Jumat, 30 Desember 2011

Snapshoot #4: Hello Morning!!!

"Kalau kamu jadi pagi, aku rela deh jadi embun"
(Subuh hari, 29 Agustus 2011 05:56 am)

    Dibangunin pagi-pagi sama ibu, diopyak-opyak (disuruh sambil dibaweli) buat jalan-jalan pagi. padahal semalem nglembur bikin tugas sampe jam 1 pagi. Tapi akhirnya bangun juga dan ikutan jalan-jalan walaupun sepanjang jalan saya nggak berhenti menguap sambil ngucek-ucek mata, nggak tau waktu itu mungkin separuh jiwa saya masih di tempat tidur bersama bantal guling! :D
Seketika rasa kantuk saya hilang tatkala mata saya melihat sesuatu berwarna putih bening berkilau dan memantulkan sinar dari matahari pagi. Saya pikir itu berlian atau kristal yang dijatuhkan Tuhan dari langit untuk saya (ngarep... :p), tapi ternyata hanya embun. Awalnya nampak biasa tapi semakin lama saya perhatikan ternyata menarik juga untuk jadi bahan objekan saya! Berikut dokumentasinya untuk anda! Enjoy... :D

Serangga kecil di pagi hari...
Ada 10 butir di satu helai GREAT!
Berlian gratis dari alam :)
Embun pagi penghilang dahaga
Model cantik dari Tuhan...
Struggle is Winner!!!


"Aku ingin menjadi embun yang senantiasa menemani mu bersama mentari pagi, aku ingin menjadi embun yang senantiasa memberimu kesejukan, dan aku ingin menjadi embun menyegarkan kembali rasa yang dulu pernah ada diantara kita"

Snapshoot #3: Dragonfly in Starting Dragon Year (2012)

"Tau persamaannya Capung sama kamu nggak? Penglihatannya sama-sama luas alias jelalatan!"
(Minggu tenang, 29 Desember 2011 09:14 am)

Tepatnya 5 hari sebelum ujian semester 3 terlintas keinginan untuk membudidayakan (cieee...budidaya!) si slr yang hampir 1 bulan terakhir ini dianggurin gara-gara kepentok tugas dan laporan yang seabrek-abrek, ini belum termasuk responsi dan makalah lalu presentasi (curcol penderitaan semester 3). Akhirnya saya putuskan untuk hunting di sawah depan rumah saya (kebetulan depan rumah saya ada sawah, maklum orang desa alias wong ndeso) hehee...
Ketika lensa si slr mulai beraksi, tiba-tiba ada yang lewat didepan saya dan itu nggak cuma 1 atau 2 melainkan banyak bahkan buanyyyaaaakkk (lebai... :p), yup...capung alias kinjeng yang masuk dalam family Libellulidae!

Berikut hasil jepretan saya (yang tergolong masih amatiran)...
Harap Maklum!!! (^,^)v

Mencoba Makro...
Warnanya Cantik... :)
Nemplok di kayu, nggak nyadar kalo dia yang jadi model... :O
Ternyata Kinjeng Menyukai Sandal Saya...

"Salah satu hal paling menarik yang ada pada capung adalah bentuk matanya. Serangga ini memiliki mata yang besar dengan ribuan lensa yang bersegi-segi seperti pada lebah. Dengan mata yang besar dan bersegi-segi tersebut, capung dapat melihat ke segala arah. Hal inilah yang membuat kita agak kesulitan ketika ingin menangkap hewan ini walaupun dari belakangnya sekalipun"