Coba tanyakan hatimu, "sudah berapa lama aku berada disitu?"
atau coba tanyakan, "sudah lama kah aku berada disitu?"
aaahh...begitu banyak pertanyaan berkelana dikepalaku, diotakku, dijiwaku, dimanapun darah ini mengalir. Banyaaaakk sekali.
"Adakah memang aku berada disitu? atau karena aku menanyakannya maka kamu menganggapku ada disitu padahal kenyataannya tidak?"
aaahh...aku gila dengan pertanyaanku sendiri. Aku gila dengan jawaban-jawaban yang kubuat sendiri. Aku gila karena tak pernah berani menanyakan itu lagi kepadamu.
AKU.
adalah seseorang yang selalu mengingat semua memori tentangmu.
adalah seseorang yang selalu ingat warna baju, gerak-gerik, bahkan arti tatapan matamu.
adalah seseorang yang "sok tahu" semua tentangmu, yang bahkan ragaku saja tak lagi melihatmu.
adalah seseorang yang sampai detik ini dan esok nanti akan terus dipenuhi dengan harapan dan impian yang dulu pernah terucap.
Kembali kubongkar kenangan...
kulihat bagaimana aku menyusunnya.
Rapi. Bahkan lebih rapi dari kenangan yang lainnya.
Sebab kuberharap esok nanti ini bukan hanya sekedar kenangan, tetapi menjadi sebuah kenyataan.
Kini kurapikan dan kusimpan kembali...
Hingga saatnya kamu bertanya,
"sudah lama kah (kenangan) berada disitu?"
Kamis, 29 Agustus 2019
Kamis, 18 Juli 2019
:)
Langkah kaki menuntunnya untuk terus memandang nanar ke arah barat sembari mengulaskan senyum di wajah sendu itu.
Sore yang terasa menyenangkan baginya, meski tak sehangat dahulu lagi.
Adalah sore yang selalu dihiasi warna jingga dengan cahaya berkilaunya.
Adalah sore yang selalu membuatnya takjub atas skenario-Nya yang selalu tidak terduga.
dan...
Adalah senja yang selalu bersama sore menuju keperaduannya.
Kakinya kini terhenti di suatu titik dimana senja dapat terlihat dengan jelasnya.
Matanya terpaku. Bibirnya kaku. Wajahnya pilu.
Ada rahasia yang ia simpan sendiri.
Sendiri saja.
Sebab dunia dan isinya tentu tak akan mau tahu tentang rahasia itu.
Begitupun jiwanya. Kosong. Hampa. Tanpa isi.
Kini ia mulai melangkah pergi.
Ia langkahkan kakinya mengikuti alunan senja yang perlahan warnanya menghitam.
Kelam. Malam.
Langkahnya tiba-tiba terhenti kemudian menoleh ke arah yang sama sekali lagi.
HITAM.
Perlahan ia ulaskan senyum di wajahnya.
Kini senja didekap malam. Hangat senja akan tergantikan oleh dinginnya malam.
Ia teruskan langkahnya seraya menunggu episode (Tuhan) selanjutnya...
Minggu, 06 Januari 2019
"Haruskah kulukai jemari ini agar aku berhenti menulis tentang(mu)?"
(Anonymous)
Semenjak aku mengenal apa itu "hobi" di setiap biodata yang kuisi, selalu kutuliskan "menulis". Meskipun saat itu yang kutahu adalah sekedar menulis diary setiap malam sebelum tidur dan itu rutin. Mungkin jika dikumpulkan sudah puluhan buku diary dengan berbagai macam motif telah kumiliki. Isi tulisannya pun standar, tidak ada yang spesial. Hanya keseharianku dengan beragam kekonyolan yang kualami hari itu. Terkadang sering kuselipkan gambar tak berfaedah di antara paragraf-paragraf tersebut. Pikirku "kelak (diary) ini akan menjadi buku yang tidak membosankan". Impian konyol kala itu. Siapa juga yang mau dan sudi membaca diary anak bau kencur basi macam aku ini.
Namun hobi "menulis"ku kembali bangkit, ketika tulisan opiniku terpampang di surat kabar. Ada kebanggaan melihat tulisanku sendiri ada di surat kabar lokal disitu (diselipi tertawa geli setengah kurang percaya). Semangat menulisku berkobar... hingga ada disuatu titik dimana aku merasa bosan. Ya... aku ingin istirahat. Sebab ide yang ingin kutuangkan seakan menguap begitu saja. Aku buntu.
Hingga aku kembali menemukan lagi inspirasi itu. Selalu ada inspirasi untuk menuliskan kalimat-kalimat sederhana namun entah kenapa ada yang berbeda ketika aku kembali membacanya. Kubaca berulang, aku juga tak pernah merasa bosan. Aku ada di titik dimana aku selalu menikmati "hobi menulisku". Aku menemukan titik itu. Dan aku tak ingin enyah dari titik kenikmatan menulis itu. Menuliskan hal sederhana namun selalu istimewa.
Mungkin bagimu ini sekedar "hobi", tapi buatku ini "inspirasi"....
Rabu, 26 Desember 2018
Eccedentesiast
Manusia yang hidup dalam topengnya seolah isi hatinya dipermainkan oleh ulasan senyum di wajahnya. Begitu banyak hal yang ada di dalam hatinya, namun tidak semua hal tersebut harus diumbar ataupun harus diperlihatkan. Senyum yang merekah indah di bibirnya, bukan berarti kebahagiaan menyelimuti hatinya. Namun dunia menginginkannya. Dunia menginginkan senyum indahnya. Dunia tak peduli betapa perih hatinya, betapa pedih perasaannya.
Manusia yang hidup dalam topengnya memang merasakan apa itu "bahagia", meski kebahagiaan dalam arti sesungguhnya hanya cukup ia simpan dalam hatinya. Pikirannya tak pernah lepas dari bagaimana cara membahagiakan hatinya dan bagaimana agar dunia mengetahui apa yang ia inginkan. Namun lagi-lagi senyum menutupinya. Menutupi kegundahannya dalam garis bibirnya menyungging ke atas.
Manusia.
Makhluk lemah yang pandai memainkan peran.
Makhluk yang pandai menutupi isi hatinya.
Betapapun ia pandai berbahagia dan bersuka cita, toh nyatanya tak kuasa ia menahan bulir hujan yang menetes di pelupuk matanya.
Hujan sesaat di malam yang pekat.
Seakan tenggorokan tercekat.
Menahannya untuk berteriak.
Jangankan berteriak, berucap pun ia tak akan sanggup.
Berat.
Manusia yang hidup dalam topengnya memang merasakan apa itu "bahagia", meski kebahagiaan dalam arti sesungguhnya hanya cukup ia simpan dalam hatinya. Pikirannya tak pernah lepas dari bagaimana cara membahagiakan hatinya dan bagaimana agar dunia mengetahui apa yang ia inginkan. Namun lagi-lagi senyum menutupinya. Menutupi kegundahannya dalam garis bibirnya menyungging ke atas.
Manusia.
Makhluk lemah yang pandai memainkan peran.
Makhluk yang pandai menutupi isi hatinya.
Betapapun ia pandai berbahagia dan bersuka cita, toh nyatanya tak kuasa ia menahan bulir hujan yang menetes di pelupuk matanya.
Hujan sesaat di malam yang pekat.
Seakan tenggorokan tercekat.
Menahannya untuk berteriak.
Jangankan berteriak, berucap pun ia tak akan sanggup.
Berat.
Minggu, 16 Desember 2018
SORE
Sore itu...
sekitar jam 3 sore,
selepas adzan ashar,
terdengar suara dari bilik jendela tempat biasa kuhabiskan lima hariku dalam seminggu...
kusibak gorden jendela lantas kulihat air berhamburan turun dari langit Jogja yang tak secerah kemarin,
mataku terpaku,
pandanganku menatap hujan sore itu,
Ahhh... sore ini hujan
mungkin nanti tak kulihat lagi senja di sisi barat sana
bagaimana mungkin kulihat senja,
langitpun menggelap menutupi langit sore yang biasanya kulihat...
Sore itu...
sembari menatap hujan,
kuabaikan apa yang ada didepanku,
lebih indah dan syahdu ketika aku menikmati rintik hujan yang tak terasa semakin lama semakin deras,
pernah sekali kudengar cerita atau mungkin kubaca cerita,
entahlah...
tapi intinya tentang hujan...
hujan adalah saat ketika malaikat-malaikat dikirimkan Tuhan ke dunia untuk mendengar doa setiap hambaNya,
seketika sore itu aku takjub membayangkan setiap air yang jatuh adalah malaikatNya,
seketika sore itu aku berdoa...
diam dengan mata terpejam sejenak,
lalu kuakhiri dengan gumam di bibirku mengatakan "aamiin"
Terlalu sederhana yang kulakukan,
bahkan usaha yang kulakukan hanya sebatas itu,
sebab mengubah apa yang terjadi pun adalah hal paling tidak mungkin terjadi,
mengubah sore dengan langit hitam yang menakutkan
menjadi sore dengan langit senja yang selalu menyenangkan
Senja adalah cara sore mengungkapkan cintanya kepada langit,
sebagaimana hujan adalah cara langit mengungkapkan cintanya kepada bumi,
lantas AKU?
sekitar jam 3 sore,
selepas adzan ashar,
terdengar suara dari bilik jendela tempat biasa kuhabiskan lima hariku dalam seminggu...
kusibak gorden jendela lantas kulihat air berhamburan turun dari langit Jogja yang tak secerah kemarin,
mataku terpaku,
pandanganku menatap hujan sore itu,
Ahhh... sore ini hujan
mungkin nanti tak kulihat lagi senja di sisi barat sana
bagaimana mungkin kulihat senja,
langitpun menggelap menutupi langit sore yang biasanya kulihat...
Sore itu...
sembari menatap hujan,
kuabaikan apa yang ada didepanku,
lebih indah dan syahdu ketika aku menikmati rintik hujan yang tak terasa semakin lama semakin deras,
pernah sekali kudengar cerita atau mungkin kubaca cerita,
entahlah...
tapi intinya tentang hujan...
hujan adalah saat ketika malaikat-malaikat dikirimkan Tuhan ke dunia untuk mendengar doa setiap hambaNya,
seketika sore itu aku takjub membayangkan setiap air yang jatuh adalah malaikatNya,
seketika sore itu aku berdoa...
diam dengan mata terpejam sejenak,
lalu kuakhiri dengan gumam di bibirku mengatakan "aamiin"
Terlalu sederhana yang kulakukan,
bahkan usaha yang kulakukan hanya sebatas itu,
sebab mengubah apa yang terjadi pun adalah hal paling tidak mungkin terjadi,
mengubah sore dengan langit hitam yang menakutkan
menjadi sore dengan langit senja yang selalu menyenangkan
Senja adalah cara sore mengungkapkan cintanya kepada langit,
sebagaimana hujan adalah cara langit mengungkapkan cintanya kepada bumi,
lantas AKU?
Kamis, 23 Agustus 2018
#SecangkirKopi
Aku memang bukan penyuka kopi
namun yang kutahu, aroma kopi selalu menyenangkan
Aku juga bukan penikmat ulung dari berbagai jenis kopi di dunia ini
namun yang kurasa, kopi selalu berhasil menenangkan
Dari secangkir kopi yang ku seruput pagi ini
Entah kenapa secangkir kopi selalu terasa berbeda
Iya, berbeda dari biasanya
Biasanya aku menikmatinya di sisi jendela
Sambil menikmati pemandangan di luar sana
Pemandangan yang selalu nampak indah
dan tak henti-hentinya ku berpaling darinya
Dari sisi jendela
aku menikmati arti menyimpan
menikmati sendirian
kemudian,
tibalah kenyataan
Mengenai secangkir kopi...
lagi lagi dan seterusnya tentang secangkir kopi
dengan aroma yang khas
Iya...
aroma secangkir kopi...
yang selalu menyenangkan untuk dinikmati....
namun yang kutahu, aroma kopi selalu menyenangkan
Aku juga bukan penikmat ulung dari berbagai jenis kopi di dunia ini
namun yang kurasa, kopi selalu berhasil menenangkan
Dari secangkir kopi yang ku seruput pagi ini
Entah kenapa secangkir kopi selalu terasa berbeda
Iya, berbeda dari biasanya
Biasanya aku menikmatinya di sisi jendela
Sambil menikmati pemandangan di luar sana
Pemandangan yang selalu nampak indah
dan tak henti-hentinya ku berpaling darinya
Dari sisi jendela
aku menikmati arti menyimpan
menikmati sendirian
kemudian,
tibalah kenyataan
Mengenai secangkir kopi...
lagi lagi dan seterusnya tentang secangkir kopi
dengan aroma yang khas
Iya...
aroma secangkir kopi...
yang selalu menyenangkan untuk dinikmati....
Kamis, 12 Juli 2018
FENOMENA (SUSU) KENTAL MANIS
Dalam kurun waktu dua pekan ini, Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan mengenai susu kental manis yang ternyata tidak ada kandungan susunya. Padahal susu kental manis telah beredar lama di Indonesia, namun mengapa pemberitaan ini baru heboh sekarang? Hampir sebagian besar masyarakat menyalahkan pemerintah atas kelalaiannya mengenai produk yang cukup terkenal ini. Akan tetapi sedikit dari mereka yang nyatanya tidak koreksi diri sendiri terlebih dahulu.
Kita sebagai konsumen, hendaknya juga lebih teliti dalam memilih suatu produk. Jangan sepenuhnya menyerahkan kepercayaan kita kepada Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Kita sebagai konsumen juga berperan dalam hal memilah dan memilih produk yang dirasa baik atau buruk untuk digunakan. Sederhananya seperti ini, banyak sekali konsumen yang memilih suatu produk karena "brand" atau mereknya saja. Tanpa mempedulikan bagaimana komposisinya atau bahkan tanggal kadaluarsanya. Padahal kedua hal tersebut sangat vital sekali dalam pemilihan suatu produk, terutama makanan.
Sering juga khalayak dihebohkan dengan makanan import yang mengandung babi. Nah, disini perlu ketelitian konsumen untuk memahami produk-produk import. Kalau memang ragu, ada baiknya tidak usah dibeli. Terkadang konsumen membeli hanya karena gengsi karena si A pernah mengonsumsi produk tersebut, kemudian tertarik untuk ikut membeli. Hello... be smart, people! Jangan hanya mengedepankan gengsi hingga mengesampingkan kesehatan diri sendiri.
Kembali lagi ke susu kental manis yang tidak ada kandungan susunya. Banyak sekali kaum ibu-ibu alias emak-emak menyayangkan adanya fakta tersebut. Mereka merasa tertipu dengan produk yang selama ini mereka konsumsi ternyata hanya mengandung gula saja. Banyak dari kaum ibu-ibu berdalih, bahwa anaknya sering dibuatkan susu tersebut. Kemudian rasa takut menyelimuti hati kaum ibu-ibu tersebut. Hal ini wajar, sebab seorang ibu pasti menginginkan hal terbaik untuk buah hati mereka.
Namun, jika kita berbicara fakta. Banyak sekali ibu-ibu yang justru menambahkan gula saat membuatkan susu untuk anak-anak mereka -dalam hal ini adalah susu bubuk. Bukankah ini juga berpengaruh pada kesehatan anak mereka juga? Coba cek kembali kebutuhan gula pada anak di bawah usia 5 tahun! Kemudian, berapa kali dalam sehari mereka membuatkan susu untuk anak-anak mereka? Apakah sudah seimbang? Atau bahkan berlebihan?
Hal inilah yang seharusnya digarisbawahi, terutama bagi ibu/calon ibu. Hal sepele yang banyak diabaikan, pengaruhnya sangat besar bagi kesehatan buah hati mereka. Selain itu juga secara umum adalah untuk para konsumen, coba cek kembali produk-produk yang sering kalian gunakan! Adakah yang janggal atau mungkin tidak sesuai?
Jangan melulu menyalahkan si Susu Kental Manis yang tidak ada kandungan susunya. Toh juga dari dulu nasi kucing tidak pernah kita temukan ada kucingnya (hehe...)
Langganan:
Postingan (Atom)