Di setiap langit yang kau tatap, ada rindu dan doa yang kutitip.
Rabu, 03 Februari 2021
Selasa, 08 September 2020
Teruntuk Hati
Hai...
Apa kabarmu?
Sekian lama tak berkabar denganmu
Meski doa terbaik selalu ada untukmu
Namun rasanya palsu jika raga tak saling temu
Munafik sekali rasanya
Ketika diri selalu bertanya-tanya
"Baik-baik kah kau disana?"
Sembari mengulaskan senyum bahagia
Ragaku terlalu terbatas untuk sebatas bertemu denganmu
Melihat senyummu
Menyelami setiap gerak-gerikmu
Menertawakan setiap hal bersamamu
Aku tak tahu kapan lagi aku akan melakukan itu
Hanya selalu berharap semoga Ia akan mengatur waktu
Agar raga ini kembali bersamamu
Meski tanya selalu menyelimuti pikiranku,
"Masih berkenan kah kau menemuiku?"
Kamis, 29 Agustus 2019
Sudah (berapa) Lama?
Coba tanyakan hatimu, "sudah berapa lama aku berada disitu?"
atau coba tanyakan, "sudah lama kah aku berada disitu?"
aaahh...begitu banyak pertanyaan berkelana dikepalaku, diotakku, dijiwaku, dimanapun darah ini mengalir. Banyaaaakk sekali.
"Adakah memang aku berada disitu? atau karena aku menanyakannya maka kamu menganggapku ada disitu padahal kenyataannya tidak?"
aaahh...aku gila dengan pertanyaanku sendiri. Aku gila dengan jawaban-jawaban yang kubuat sendiri. Aku gila karena tak pernah berani menanyakan itu lagi kepadamu.
AKU.
adalah seseorang yang selalu mengingat semua memori tentangmu.
adalah seseorang yang selalu ingat warna baju, gerak-gerik, bahkan arti tatapan matamu.
adalah seseorang yang "sok tahu" semua tentangmu, yang bahkan ragaku saja tak lagi melihatmu.
adalah seseorang yang sampai detik ini dan esok nanti akan terus dipenuhi dengan harapan dan impian yang dulu pernah terucap.
Kembali kubongkar kenangan...
kulihat bagaimana aku menyusunnya.
Rapi. Bahkan lebih rapi dari kenangan yang lainnya.
Sebab kuberharap esok nanti ini bukan hanya sekedar kenangan, tetapi menjadi sebuah kenyataan.
Kini kurapikan dan kusimpan kembali...
Hingga saatnya kamu bertanya,
"sudah lama kah (kenangan) berada disitu?"
atau coba tanyakan, "sudah lama kah aku berada disitu?"
aaahh...begitu banyak pertanyaan berkelana dikepalaku, diotakku, dijiwaku, dimanapun darah ini mengalir. Banyaaaakk sekali.
"Adakah memang aku berada disitu? atau karena aku menanyakannya maka kamu menganggapku ada disitu padahal kenyataannya tidak?"
aaahh...aku gila dengan pertanyaanku sendiri. Aku gila dengan jawaban-jawaban yang kubuat sendiri. Aku gila karena tak pernah berani menanyakan itu lagi kepadamu.
AKU.
adalah seseorang yang selalu mengingat semua memori tentangmu.
adalah seseorang yang selalu ingat warna baju, gerak-gerik, bahkan arti tatapan matamu.
adalah seseorang yang "sok tahu" semua tentangmu, yang bahkan ragaku saja tak lagi melihatmu.
adalah seseorang yang sampai detik ini dan esok nanti akan terus dipenuhi dengan harapan dan impian yang dulu pernah terucap.
Kembali kubongkar kenangan...
kulihat bagaimana aku menyusunnya.
Rapi. Bahkan lebih rapi dari kenangan yang lainnya.
Sebab kuberharap esok nanti ini bukan hanya sekedar kenangan, tetapi menjadi sebuah kenyataan.
Kini kurapikan dan kusimpan kembali...
Hingga saatnya kamu bertanya,
"sudah lama kah (kenangan) berada disitu?"
Kamis, 18 Juli 2019
:)
Langkah kaki menuntunnya untuk terus memandang nanar ke arah barat sembari mengulaskan senyum di wajah sendu itu.
Sore yang terasa menyenangkan baginya, meski tak sehangat dahulu lagi.
Adalah sore yang selalu dihiasi warna jingga dengan cahaya berkilaunya.
Adalah sore yang selalu membuatnya takjub atas skenario-Nya yang selalu tidak terduga.
dan...
Adalah senja yang selalu bersama sore menuju keperaduannya.
Kakinya kini terhenti di suatu titik dimana senja dapat terlihat dengan jelasnya.
Matanya terpaku. Bibirnya kaku. Wajahnya pilu.
Ada rahasia yang ia simpan sendiri.
Sendiri saja.
Sebab dunia dan isinya tentu tak akan mau tahu tentang rahasia itu.
Begitupun jiwanya. Kosong. Hampa. Tanpa isi.
Kini ia mulai melangkah pergi.
Ia langkahkan kakinya mengikuti alunan senja yang perlahan warnanya menghitam.
Kelam. Malam.
Langkahnya tiba-tiba terhenti kemudian menoleh ke arah yang sama sekali lagi.
HITAM.
Perlahan ia ulaskan senyum di wajahnya.
Kini senja didekap malam. Hangat senja akan tergantikan oleh dinginnya malam.
Ia teruskan langkahnya seraya menunggu episode (Tuhan) selanjutnya...
Minggu, 06 Januari 2019
"Haruskah kulukai jemari ini agar aku berhenti menulis tentang(mu)?"
(Anonymous)
Semenjak aku mengenal apa itu "hobi" di setiap biodata yang kuisi, selalu kutuliskan "menulis". Meskipun saat itu yang kutahu adalah sekedar menulis diary setiap malam sebelum tidur dan itu rutin. Mungkin jika dikumpulkan sudah puluhan buku diary dengan berbagai macam motif telah kumiliki. Isi tulisannya pun standar, tidak ada yang spesial. Hanya keseharianku dengan beragam kekonyolan yang kualami hari itu. Terkadang sering kuselipkan gambar tak berfaedah di antara paragraf-paragraf tersebut. Pikirku "kelak (diary) ini akan menjadi buku yang tidak membosankan". Impian konyol kala itu. Siapa juga yang mau dan sudi membaca diary anak bau kencur basi macam aku ini.
Namun hobi "menulis"ku kembali bangkit, ketika tulisan opiniku terpampang di surat kabar. Ada kebanggaan melihat tulisanku sendiri ada di surat kabar lokal disitu (diselipi tertawa geli setengah kurang percaya). Semangat menulisku berkobar... hingga ada disuatu titik dimana aku merasa bosan. Ya... aku ingin istirahat. Sebab ide yang ingin kutuangkan seakan menguap begitu saja. Aku buntu.
Hingga aku kembali menemukan lagi inspirasi itu. Selalu ada inspirasi untuk menuliskan kalimat-kalimat sederhana namun entah kenapa ada yang berbeda ketika aku kembali membacanya. Kubaca berulang, aku juga tak pernah merasa bosan. Aku ada di titik dimana aku selalu menikmati "hobi menulisku". Aku menemukan titik itu. Dan aku tak ingin enyah dari titik kenikmatan menulis itu. Menuliskan hal sederhana namun selalu istimewa.
Mungkin bagimu ini sekedar "hobi", tapi buatku ini "inspirasi"....
Rabu, 26 Desember 2018
Eccedentesiast
Manusia yang hidup dalam topengnya seolah isi hatinya dipermainkan oleh ulasan senyum di wajahnya. Begitu banyak hal yang ada di dalam hatinya, namun tidak semua hal tersebut harus diumbar ataupun harus diperlihatkan. Senyum yang merekah indah di bibirnya, bukan berarti kebahagiaan menyelimuti hatinya. Namun dunia menginginkannya. Dunia menginginkan senyum indahnya. Dunia tak peduli betapa perih hatinya, betapa pedih perasaannya.
Manusia yang hidup dalam topengnya memang merasakan apa itu "bahagia", meski kebahagiaan dalam arti sesungguhnya hanya cukup ia simpan dalam hatinya. Pikirannya tak pernah lepas dari bagaimana cara membahagiakan hatinya dan bagaimana agar dunia mengetahui apa yang ia inginkan. Namun lagi-lagi senyum menutupinya. Menutupi kegundahannya dalam garis bibirnya menyungging ke atas.
Manusia.
Makhluk lemah yang pandai memainkan peran.
Makhluk yang pandai menutupi isi hatinya.
Betapapun ia pandai berbahagia dan bersuka cita, toh nyatanya tak kuasa ia menahan bulir hujan yang menetes di pelupuk matanya.
Hujan sesaat di malam yang pekat.
Seakan tenggorokan tercekat.
Menahannya untuk berteriak.
Jangankan berteriak, berucap pun ia tak akan sanggup.
Berat.
Manusia yang hidup dalam topengnya memang merasakan apa itu "bahagia", meski kebahagiaan dalam arti sesungguhnya hanya cukup ia simpan dalam hatinya. Pikirannya tak pernah lepas dari bagaimana cara membahagiakan hatinya dan bagaimana agar dunia mengetahui apa yang ia inginkan. Namun lagi-lagi senyum menutupinya. Menutupi kegundahannya dalam garis bibirnya menyungging ke atas.
Manusia.
Makhluk lemah yang pandai memainkan peran.
Makhluk yang pandai menutupi isi hatinya.
Betapapun ia pandai berbahagia dan bersuka cita, toh nyatanya tak kuasa ia menahan bulir hujan yang menetes di pelupuk matanya.
Hujan sesaat di malam yang pekat.
Seakan tenggorokan tercekat.
Menahannya untuk berteriak.
Jangankan berteriak, berucap pun ia tak akan sanggup.
Berat.
Minggu, 16 Desember 2018
SORE
Sore itu...
sekitar jam 3 sore,
selepas adzan ashar,
terdengar suara dari bilik jendela tempat biasa kuhabiskan lima hariku dalam seminggu...
kusibak gorden jendela lantas kulihat air berhamburan turun dari langit Jogja yang tak secerah kemarin,
mataku terpaku,
pandanganku menatap hujan sore itu,
Ahhh... sore ini hujan
mungkin nanti tak kulihat lagi senja di sisi barat sana
bagaimana mungkin kulihat senja,
langitpun menggelap menutupi langit sore yang biasanya kulihat...
Sore itu...
sembari menatap hujan,
kuabaikan apa yang ada didepanku,
lebih indah dan syahdu ketika aku menikmati rintik hujan yang tak terasa semakin lama semakin deras,
pernah sekali kudengar cerita atau mungkin kubaca cerita,
entahlah...
tapi intinya tentang hujan...
hujan adalah saat ketika malaikat-malaikat dikirimkan Tuhan ke dunia untuk mendengar doa setiap hambaNya,
seketika sore itu aku takjub membayangkan setiap air yang jatuh adalah malaikatNya,
seketika sore itu aku berdoa...
diam dengan mata terpejam sejenak,
lalu kuakhiri dengan gumam di bibirku mengatakan "aamiin"
Terlalu sederhana yang kulakukan,
bahkan usaha yang kulakukan hanya sebatas itu,
sebab mengubah apa yang terjadi pun adalah hal paling tidak mungkin terjadi,
mengubah sore dengan langit hitam yang menakutkan
menjadi sore dengan langit senja yang selalu menyenangkan
Senja adalah cara sore mengungkapkan cintanya kepada langit,
sebagaimana hujan adalah cara langit mengungkapkan cintanya kepada bumi,
lantas AKU?
sekitar jam 3 sore,
selepas adzan ashar,
terdengar suara dari bilik jendela tempat biasa kuhabiskan lima hariku dalam seminggu...
kusibak gorden jendela lantas kulihat air berhamburan turun dari langit Jogja yang tak secerah kemarin,
mataku terpaku,
pandanganku menatap hujan sore itu,
Ahhh... sore ini hujan
mungkin nanti tak kulihat lagi senja di sisi barat sana
bagaimana mungkin kulihat senja,
langitpun menggelap menutupi langit sore yang biasanya kulihat...
Sore itu...
sembari menatap hujan,
kuabaikan apa yang ada didepanku,
lebih indah dan syahdu ketika aku menikmati rintik hujan yang tak terasa semakin lama semakin deras,
pernah sekali kudengar cerita atau mungkin kubaca cerita,
entahlah...
tapi intinya tentang hujan...
hujan adalah saat ketika malaikat-malaikat dikirimkan Tuhan ke dunia untuk mendengar doa setiap hambaNya,
seketika sore itu aku takjub membayangkan setiap air yang jatuh adalah malaikatNya,
seketika sore itu aku berdoa...
diam dengan mata terpejam sejenak,
lalu kuakhiri dengan gumam di bibirku mengatakan "aamiin"
Terlalu sederhana yang kulakukan,
bahkan usaha yang kulakukan hanya sebatas itu,
sebab mengubah apa yang terjadi pun adalah hal paling tidak mungkin terjadi,
mengubah sore dengan langit hitam yang menakutkan
menjadi sore dengan langit senja yang selalu menyenangkan
Senja adalah cara sore mengungkapkan cintanya kepada langit,
sebagaimana hujan adalah cara langit mengungkapkan cintanya kepada bumi,
lantas AKU?
Kamis, 23 Agustus 2018
#SecangkirKopi
Aku memang bukan penyuka kopi
namun yang kutahu, aroma kopi selalu menyenangkan
Aku juga bukan penikmat ulung dari berbagai jenis kopi di dunia ini
namun yang kurasa, kopi selalu berhasil menenangkan
Dari secangkir kopi yang ku seruput pagi ini
Entah kenapa secangkir kopi selalu terasa berbeda
Iya, berbeda dari biasanya
Biasanya aku menikmatinya di sisi jendela
Sambil menikmati pemandangan di luar sana
Pemandangan yang selalu nampak indah
dan tak henti-hentinya ku berpaling darinya
Dari sisi jendela
aku menikmati arti menyimpan
menikmati sendirian
kemudian,
tibalah kenyataan
Mengenai secangkir kopi...
lagi lagi dan seterusnya tentang secangkir kopi
dengan aroma yang khas
Iya...
aroma secangkir kopi...
yang selalu menyenangkan untuk dinikmati....
namun yang kutahu, aroma kopi selalu menyenangkan
Aku juga bukan penikmat ulung dari berbagai jenis kopi di dunia ini
namun yang kurasa, kopi selalu berhasil menenangkan
Dari secangkir kopi yang ku seruput pagi ini
Entah kenapa secangkir kopi selalu terasa berbeda
Iya, berbeda dari biasanya
Biasanya aku menikmatinya di sisi jendela
Sambil menikmati pemandangan di luar sana
Pemandangan yang selalu nampak indah
dan tak henti-hentinya ku berpaling darinya
Dari sisi jendela
aku menikmati arti menyimpan
menikmati sendirian
kemudian,
tibalah kenyataan
Mengenai secangkir kopi...
lagi lagi dan seterusnya tentang secangkir kopi
dengan aroma yang khas
Iya...
aroma secangkir kopi...
yang selalu menyenangkan untuk dinikmati....
Kamis, 12 Juli 2018
FENOMENA (SUSU) KENTAL MANIS
Dalam kurun waktu dua pekan ini, Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan mengenai susu kental manis yang ternyata tidak ada kandungan susunya. Padahal susu kental manis telah beredar lama di Indonesia, namun mengapa pemberitaan ini baru heboh sekarang? Hampir sebagian besar masyarakat menyalahkan pemerintah atas kelalaiannya mengenai produk yang cukup terkenal ini. Akan tetapi sedikit dari mereka yang nyatanya tidak koreksi diri sendiri terlebih dahulu.
Kita sebagai konsumen, hendaknya juga lebih teliti dalam memilih suatu produk. Jangan sepenuhnya menyerahkan kepercayaan kita kepada Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Kita sebagai konsumen juga berperan dalam hal memilah dan memilih produk yang dirasa baik atau buruk untuk digunakan. Sederhananya seperti ini, banyak sekali konsumen yang memilih suatu produk karena "brand" atau mereknya saja. Tanpa mempedulikan bagaimana komposisinya atau bahkan tanggal kadaluarsanya. Padahal kedua hal tersebut sangat vital sekali dalam pemilihan suatu produk, terutama makanan.
Sering juga khalayak dihebohkan dengan makanan import yang mengandung babi. Nah, disini perlu ketelitian konsumen untuk memahami produk-produk import. Kalau memang ragu, ada baiknya tidak usah dibeli. Terkadang konsumen membeli hanya karena gengsi karena si A pernah mengonsumsi produk tersebut, kemudian tertarik untuk ikut membeli. Hello... be smart, people! Jangan hanya mengedepankan gengsi hingga mengesampingkan kesehatan diri sendiri.
Kembali lagi ke susu kental manis yang tidak ada kandungan susunya. Banyak sekali kaum ibu-ibu alias emak-emak menyayangkan adanya fakta tersebut. Mereka merasa tertipu dengan produk yang selama ini mereka konsumsi ternyata hanya mengandung gula saja. Banyak dari kaum ibu-ibu berdalih, bahwa anaknya sering dibuatkan susu tersebut. Kemudian rasa takut menyelimuti hati kaum ibu-ibu tersebut. Hal ini wajar, sebab seorang ibu pasti menginginkan hal terbaik untuk buah hati mereka.
Namun, jika kita berbicara fakta. Banyak sekali ibu-ibu yang justru menambahkan gula saat membuatkan susu untuk anak-anak mereka -dalam hal ini adalah susu bubuk. Bukankah ini juga berpengaruh pada kesehatan anak mereka juga? Coba cek kembali kebutuhan gula pada anak di bawah usia 5 tahun! Kemudian, berapa kali dalam sehari mereka membuatkan susu untuk anak-anak mereka? Apakah sudah seimbang? Atau bahkan berlebihan?
Hal inilah yang seharusnya digarisbawahi, terutama bagi ibu/calon ibu. Hal sepele yang banyak diabaikan, pengaruhnya sangat besar bagi kesehatan buah hati mereka. Selain itu juga secara umum adalah untuk para konsumen, coba cek kembali produk-produk yang sering kalian gunakan! Adakah yang janggal atau mungkin tidak sesuai?
Jangan melulu menyalahkan si Susu Kental Manis yang tidak ada kandungan susunya. Toh juga dari dulu nasi kucing tidak pernah kita temukan ada kucingnya (hehe...)
Kamis, 05 Juli 2018
TERBUNGKAMNYA SUARA MAHASISWA
Sumpah Mahasiswa Indonesia:
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah,
bertanah air satu, tanah air TANPA
PENINDASAN.
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah,
berbangsa satu, bangsa yang gandrung
akan KEADILAN.
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah,
berbahasa satu, bahasa TANPA
KEBOHONGAN.
Kemanakah Mahasiswa?
Sebait sumpah mahasiswa yang kerap
kita dengar saat orasi mahasiswa yang menuntut keadilan negeri, terakhir kali
kudengar beberapa tahun yang lalu. Lantas, kemanakah mahasiswa Indonesia saat
ini? Sedangkan kami rakyat Indonesia membutuhkan kalian untuk menyuarakan
keadilan yang sudah lama tidak kami dapati. Para mahasiswa Indonesia yang
bangga dengan jaket almamaternya, kemanakah kalian disaat tangisan mulai
terjadi di seluruh pelosok negeri. Kemanakah para agen perubahan itu sekarang?
Adakah suara kalian dibungkam?
Sebagai The Agent of Change, kalian seharusnya bertindak sebagai seorang
yang kritis pada fenomena negeri yang semakin lama semakin menyayat hati ibu
pertiwi. Kalian seharusnya gerah dan cemas atas perubahan yang nyatanya
meruskan jati diri bangsa ini. Telah banyak pembodohan dan ketidakadilan yang
terjadi di negeri ini. Itulah mengapa, kalian seharusnya memiliki opini untuk
mengembalikan dan mengubah semua ini.
Peran mahasiswa sebagai Social Control terjadi ketika kalian
menemui suatru hal yang ganjil. Kalian seharusnya memberontak terhadap
kelaziman atas birokrasi yang semakin bobrok. Kalian seharusnya memulai menyadari
bahwa apa yang terjadi di negeri ini sudah saatnya diperbaiki, bukan hanya
sekedar diamati. Bukan hanya turun ke jalan atau sekedar berteriak-teriak di
jalan-jalan protokol saja yang kami butuhkan. Bukan pula tingkah laku anarkis
kalian yang kami rindukan. Namun kami hanya perlu SUARA MAHASISWA, yang mampu
menyuarakan atas apa yang rakyat rasakan, menyampaikan opini atas apa yang
rakyat alami, dan tentunya menyelesaikan permasalahan ini dengan pemikiran
cerdas tanpa harus menggunakan otot.
Mahasiswa sebagai Iron Stock, adalah kalian para
pemuda-pemudi tangguh yang bersiap untuk menggantikan generasi-generasi
sebelumnya. Kalian adalah aset bangsa, pemikiran dan keberanian kalian adalah
harapan bangsa yang selalu kami nantikan. Di dalam darah kalian mengalir
tanggung jawab besar untuk membawa negeri ini jauh lebih baik lagi. Lantas, apa
yang terjadi jika kalian hanya bungkam?
Bobroknya
Pendidikan
Tentang pendidikan selalu berpijak
pada sistem yang ada. Pendidikan negeri ini terjebak pada sistem. Sistem yang
(mungkin) dianggap baik oleh pemerintah, (nyatanya) belum tentu baik jika
diterapkan. Satu sistem akan merusak sistem yang lainnya. Sebagai contoh: Guru
masa kini terjebak oleh sistem sertifikasi yang sejak beberapa tahun belakangan
menjadi pokok bahasan yang tak kunjung hentinya dibicarakan publik. Sistem
sertifikasi yang digadang-gadang meningkatkan kesejahteraan guru, nyatanya
berimbas pada siswa yang ditangani guru tersebut. Kok bisa? Hal ini sangat bisa
terjadi. Kini guru hanya berkutat pada administrasi sekolah dan personal.
Administrasi sekolah bertujuan untuk meningkatkan akreditasi sekolah, sedangkan
administrasi personal bertujuan untuk meningkatkan pendapatan guru (termasuk
kenaikan golongan). Fakta yang terjadi di lapangan, guru dibebani dengan segala
macam administrasi yang menyita waktunya untuk berinteraksi dengan siswa. Akibatnya,
segala bentuk tingkah laku siswa di sekolah kurang diawasi. Maka tidak heran,
akhir-akhir ini terjadi kekerasan, pemerkosaan, bahkan perilaku yang tidak
pantas dilakukan oleh generasi muda Indonesia. Lantas, salah siapa? Bukan salah
guru maupun orangtua. Sekali lagi, kita hanya terjebak sistem.
Kita perhatikan dari sisi mahasiswa,
kini mahasiswa juga dibebani oleh kurikulum baru yang sangat menyita waktu mereka.
Bahkan kesempatan untuk berorganisasi pun sangat kurang. “Jangankan buat demo, nyempetin waktu buat gabung ke
organisasi aja susah”, ucap salah satu mahasiswa. Kini seakan mahasiswa hanya
dikejar target lulus tepat waktu, tanpa mengacuhkan apa yang mereka dapat
selama ini di bangku kuliah. Terget mereka adalah nilai, padahal ada banyak hal
yang harus kalian eksplorasikan. Kegiatan-kegiatan positif di kampus juga
seharusnya kalian datangi. Bukan untuk gaya-gayaan biar dianggap aktivis saja,
namun hal positif yang kalian dapatkan. Salah satunya adalah mengubah cara
berpikir kalian menjadi lebih global.
Ilmu tidak sekedar apa yang kalian
dapatkan di dalam kelas/perkuliahan. Namun, ilmu sesungguhnya adalah yang
kalian temukan di jalan. Artinya kalian perlu praktek langsung di lapangan.
Seberapapun tinggi IPK kalian, tidak berguna ketika kalian hanya diam. Seberapa
hebat hingga menjadi mahasiswa terbaik di kampus, tidak berarti ketika kalian
berhenti peduli.
Sekali lagi, kami rindu suara kalian
wahai mahasiswa. Kami merindukan Mars Mahasiswa yang kalian nyanyikan di
sepanjang perjalanan kalian. Kami pun merindukan aksi kalian turun ke jalan
menuntut keadilan. Kami tak peduli apa warna jaket almamater kalian, yang kami
tahu warna darah kita semua sama. Merah berarti berani. Keberanian menentang kebusukan-kebusukan
yang tercium di negeri yang mengatasnamakan DEMOKRASI.
HIDUP
MAHASISWA INDONESIA!!!
Disini negri kami
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur tuan…
Dinegri permai ini
Berjuta Rakyat bersimbah rugah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja…
Mereka dirampas haknya Tergusur dan
lapar bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat…
Mereka dirampas haknya Tergusur dan
lapar bunda relakan darah juang kami
pada mu kami berjanji…
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur tuan…
Dinegri permai ini
Berjuta Rakyat bersimbah rugah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja…
Mereka dirampas haknya Tergusur dan
lapar bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat…
Mereka dirampas haknya Tergusur dan
lapar bunda relakan darah juang kami
pada mu kami berjanji…
(Darah Juang Mahasiswa)
Senin, 25 Juni 2018
25/06/2018
Langit : Hei, aku sudah menunggumu...
Senja : Aku bahkan selalu menunggu waktuku, tapi taukah kamu apa yang lebih menyakitkan dari menunggu?
Langit : Apa itu?
Senja : Yang lebih menyakitkan dari menunggu adalah sama-sama saling menunggu tetapi tidak pernah saling tau
Senja : Aku bahkan selalu menunggu waktuku, tapi taukah kamu apa yang lebih menyakitkan dari menunggu?
Langit : Apa itu?
Senja : Yang lebih menyakitkan dari menunggu adalah sama-sama saling menunggu tetapi tidak pernah saling tau
Selasa, 29 Mei 2018
Getir Menjadi Tawa Bila Kubersamanya (The Rain)
aku tak pernah lupa
saat kali pertama
berjuang memilih kata
hanya untuk menyapanya
terekam di ingatan
sore yang menyenangkan
mendengar renyah tawanya
menyelami hatinya
dan tenggelam di sana
untuknya, untuknya aku rela menulis ulang
mimpi-mimpiku
getir menjadi tawa bila kubersamanya
di sana, di sana aku menemukan yang hilang
mungkin hatiku apapun itu
asalkan aku bersamanya...
saat kali pertama
berjuang memilih kata
hanya untuk menyapanya
terekam di ingatan
sore yang menyenangkan
mendengar renyah tawanya
menyelami hatinya
dan tenggelam di sana
untuknya, untuknya aku rela menulis ulang
mimpi-mimpiku
getir menjadi tawa bila kubersamanya
di sana, di sana aku menemukan yang hilang
mungkin hatiku apapun itu
asalkan aku bersamanya...
Sabtu, 26 Mei 2018
SAMA
Aku menuliskan sebuah pesan...
pesan yang selalu sama isinya
tak akan berubah, bahkan titik koma pun sama
tak akan terganti, penggunaan katanya pun persis
Ada yang mengatakan, "bahwa hidup harus selalu berubah"
itu benar, namun yang satu ini rasanya sulit berubah
bahkan tak ada sedikitpun niat untuk mengubahnya
sebab membiarkan isi pesan itu selalu sama
adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untukku
Sendiri?
Iya, sendiri. sebab hanya aku sendiri yang merasakan.
Egois ya? Untuk kebahagiaan ini aku egois
sebab aku tak mau membaginya dengan siapapun
kecuali dengannya yang menerima pesan itu
Sebuah pesan yang isinya sama
titik koma yang sama
dan yang paling penting adalah...
penerimanya pun sama.
pesan yang selalu sama isinya
tak akan berubah, bahkan titik koma pun sama
tak akan terganti, penggunaan katanya pun persis
Ada yang mengatakan, "bahwa hidup harus selalu berubah"
itu benar, namun yang satu ini rasanya sulit berubah
bahkan tak ada sedikitpun niat untuk mengubahnya
sebab membiarkan isi pesan itu selalu sama
adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untukku
Sendiri?
Iya, sendiri. sebab hanya aku sendiri yang merasakan.
Egois ya? Untuk kebahagiaan ini aku egois
sebab aku tak mau membaginya dengan siapapun
kecuali dengannya yang menerima pesan itu
Sebuah pesan yang isinya sama
titik koma yang sama
dan yang paling penting adalah...
penerimanya pun sama.
Rabu, 23 Mei 2018
Sebuah Nama dalam Sebaris Doa
dalam gelap dan diam bibirku selalu mengucapkan sebuah namaatas dasar percaya, aku hadirkan nama itu dalam setiap lantunan doa yang kupanjatkan
doa yang sederhana, namun maknanya sangat terasa
bahkan setiap kali kusebut nama itu...
aliran darahku terasa berhenti, namun jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya
di saat aku sebut nama itu...
entah kenapa pikiranku melayang
membayangkan sosoknya ada di depan mata
Sebuah nama...
yang tak tentu aku tau apakah ia mendengarnya....
doa yang sederhana, namun maknanya sangat terasa
bahkan setiap kali kusebut nama itu...
aliran darahku terasa berhenti, namun jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya
di saat aku sebut nama itu...
entah kenapa pikiranku melayang
membayangkan sosoknya ada di depan mata
Sebuah nama...
yang tak tentu aku tau apakah ia mendengarnya....
Minggu, 20 Mei 2018
MERAPI (AKU) TAK PERNAH INGKAR JANJI
Hari ini atau tepatnya pagi tadi
Merapi kembali menggeliat
seakan berteriak agar mereka tau akan kehadirannya
bahwa Merapi selalu "hidup"
Di dalam diamnya Merapi
terdapat tenaga super dahsyat
yang sewaktu-waktu dimuntahkannya
memuntahkan segala isinya
bahwa hal itu wajar,
Merapi hanya "menjalankan" apa yang diperintahkanNya
"Sabda Sang Pandita Ratu", kata orang jaman dulu
bahwa Merapi adalah sebuah kejujuran
Apa yang terjadi adalah apa yang dijanjikannya
dan Merapi tak akan pernah mengingkarinya
dia selalu menepati janjinya
untuk selalu menampakkan keberadaannya
di dalam diamnya
bahwa sejatinya Merapi ada
di dalam hati dan kehidupan mereka yang berkenan mempercayainya
sebab kepercayaan tak bisa dipaksakan
sebagaimana janji yang sejatinya tak akan bisa diingkari
Begitupun AKU...
Aku belajar dari tingkahlaku Merapi
dalam gerak langkah dan diamku
sejatinya aku "hidup"
hanya tinggal menunggu titahNya...
Merapi kembali menggeliat
seakan berteriak agar mereka tau akan kehadirannya
bahwa Merapi selalu "hidup"
Di dalam diamnya Merapi
terdapat tenaga super dahsyat
yang sewaktu-waktu dimuntahkannya
memuntahkan segala isinya
bahwa hal itu wajar,
Merapi hanya "menjalankan" apa yang diperintahkanNya
"Sabda Sang Pandita Ratu", kata orang jaman dulu
bahwa Merapi adalah sebuah kejujuran
Apa yang terjadi adalah apa yang dijanjikannya
dan Merapi tak akan pernah mengingkarinya
dia selalu menepati janjinya
untuk selalu menampakkan keberadaannya
di dalam diamnya
bahwa sejatinya Merapi ada
di dalam hati dan kehidupan mereka yang berkenan mempercayainya
sebab kepercayaan tak bisa dipaksakan
sebagaimana janji yang sejatinya tak akan bisa diingkari
Begitupun AKU...
Aku belajar dari tingkahlaku Merapi
dalam gerak langkah dan diamku
sejatinya aku "hidup"
hanya tinggal menunggu titahNya...
Selasa, 15 Mei 2018
Sebuah Tulisan
Aku kembali lagi menulis
sebab aku punya alasan
aku memiliki bahan untuk kutulis
aku memiliki segudang cerita untuk kutulis
dan yang paling utama...
sebab aku memiliki rasa yang tak mampu kuungkapkan dalam kata
sehingga tulisanlah yang mewakilinya
meskipun semua hal yang tertulis tak bisa mewakili semua yang kurasakan
tapi setidaknya ada tempat untukku bercerita
setidaknya aku menyampaikannya dalam tulisan
yang tak tau kapan ujungnya...
sebab aku punya alasan
aku memiliki bahan untuk kutulis
aku memiliki segudang cerita untuk kutulis
dan yang paling utama...
sebab aku memiliki rasa yang tak mampu kuungkapkan dalam kata
sehingga tulisanlah yang mewakilinya
meskipun semua hal yang tertulis tak bisa mewakili semua yang kurasakan
tapi setidaknya ada tempat untukku bercerita
setidaknya aku menyampaikannya dalam tulisan
yang tak tau kapan ujungnya...
Jumat, 04 Mei 2018
KEMBALI
Menatapmu dalam diam
dalam kata tak terucap,
Menunggumu dalam harap
dalam sunyi dan senyap
Hanya asa yang selalu membawamu dekat
Hanya doa dan pelukan erat,
yang mampu menghadirkamu dalam dekat
Sedekat itu aku mampu merasakanmu...
Sedekat itu pula aku mampu tersenyum karena hadirmu...
Namun berbagai hal yang masih menjadi misteri untukmu,
atas jalan hidup yang akan kutuju...
Tak mengapa berbagai hal kau simpulkan,
Tak mengapa jika pada akhirnya membuatmu
begitu membenci sosok AKU
Meski begitu...
apapun yang kujalani
kembali lagi...
asa itu tetap kembali padamu...
dalam kata tak terucap,
Menunggumu dalam harap
dalam sunyi dan senyap
Hanya asa yang selalu membawamu dekat
Hanya doa dan pelukan erat,
yang mampu menghadirkamu dalam dekat
Sedekat itu aku mampu merasakanmu...
Sedekat itu pula aku mampu tersenyum karena hadirmu...
Namun berbagai hal yang masih menjadi misteri untukmu,
atas jalan hidup yang akan kutuju...
Tak mengapa berbagai hal kau simpulkan,
Tak mengapa jika pada akhirnya membuatmu
begitu membenci sosok AKU
Meski begitu...
apapun yang kujalani
kembali lagi...
asa itu tetap kembali padamu...
Rabu, 02 Mei 2018
Tiap Senja - Float
Bilakah kau menepi, di labuhku…
Bilakah kau menjauh…
Membentangkan jelas di sana, namun tak teraih…
Kau tak datang umpama…
Biar ia berlabuh, di pantaiku…
Darahku kian menderu…
Sadarikah jelas di sana, apakah karnamu…
Kau tak nyata, pun tak semu….
Tidakkah cinta…
Berkuasa…
Tak mestinya luka manghentikan langkah…
Bila saatnya hadapilah… ah..
Bilakah kau menepi, di labuhku…
Bilakah kau menjauh…
Membentangkan jelas di sana, namun tak teraih…
Kau tak datang pun tak pergi…
Tidakkah bimbang…
Menyiksamu…
Masih banyak pulau yang dapat kau tunggu…
Sejenak saja hampiriku…
Biar ia berlabuh, di pantaiku…
Darahku kian menderu…
Berharapkan kau di sana, hanyalah karnamu…
Tiap senja di labuhku….
Menepilah…
Menepilah…
Menepilah…
Tiap senja…
Bilakah kau menjauh…
Membentangkan jelas di sana, namun tak teraih…
Kau tak datang umpama…
Biar ia berlabuh, di pantaiku…
Darahku kian menderu…
Sadarikah jelas di sana, apakah karnamu…
Kau tak nyata, pun tak semu….
Tidakkah cinta…
Berkuasa…
Tak mestinya luka manghentikan langkah…
Bila saatnya hadapilah… ah..
Bilakah kau menepi, di labuhku…
Bilakah kau menjauh…
Membentangkan jelas di sana, namun tak teraih…
Kau tak datang pun tak pergi…
Tidakkah bimbang…
Menyiksamu…
Masih banyak pulau yang dapat kau tunggu…
Sejenak saja hampiriku…
Biar ia berlabuh, di pantaiku…
Darahku kian menderu…
Berharapkan kau di sana, hanyalah karnamu…
Tiap senja di labuhku….
Menepilah…
Menepilah…
Menepilah…
Tiap senja…
Minggu, 29 April 2018
Rabu, 25 April 2018
ALASAN
Semua pertanyaan "Mengapa", selalu berpasangan dengan jawaban "Karena"
Mengapa? Karena....
Mengapa? Sebab....
Mengapa? dan alasan seterusnya...
Namun ada satu hal yang tak pernah kutemukan jawabannya...
Aku tau semuanya serba berlandaskan alasan
namun untuk hal yang satu itu, tak pernah beralasan
tak pernah kutemukan alasannya...
Sebab rasa tak butuh alasan, hanya butuh dirasakan...
Mengapa? Karena....
Mengapa? Sebab....
Mengapa? dan alasan seterusnya...
Namun ada satu hal yang tak pernah kutemukan jawabannya...
Aku tau semuanya serba berlandaskan alasan
namun untuk hal yang satu itu, tak pernah beralasan
tak pernah kutemukan alasannya...
Sebab rasa tak butuh alasan, hanya butuh dirasakan...
Langganan:
Postingan (Atom)