Kamis, 12 Juli 2018

FENOMENA (SUSU) KENTAL MANIS

Dalam kurun waktu dua pekan ini, Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan mengenai susu kental manis yang ternyata tidak ada kandungan susunya. Padahal susu kental manis telah beredar lama di Indonesia, namun mengapa pemberitaan ini baru heboh sekarang? Hampir sebagian besar masyarakat menyalahkan pemerintah atas kelalaiannya mengenai produk yang cukup terkenal ini. Akan tetapi sedikit dari mereka yang nyatanya tidak koreksi diri sendiri terlebih dahulu.

Kita sebagai konsumen, hendaknya juga lebih teliti dalam memilih suatu produk. Jangan sepenuhnya menyerahkan kepercayaan kita kepada Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Kita sebagai konsumen juga berperan dalam hal memilah dan memilih produk yang dirasa baik atau buruk untuk digunakan. Sederhananya seperti ini, banyak sekali konsumen yang memilih suatu produk karena "brand" atau mereknya saja. Tanpa mempedulikan bagaimana komposisinya atau bahkan tanggal kadaluarsanya. Padahal kedua hal tersebut sangat vital sekali dalam pemilihan suatu produk, terutama makanan. 

Sering juga khalayak dihebohkan dengan makanan import yang mengandung babi. Nah, disini perlu ketelitian konsumen untuk memahami produk-produk import. Kalau memang ragu, ada baiknya tidak usah dibeli. Terkadang konsumen membeli hanya karena gengsi karena si A pernah mengonsumsi produk tersebut, kemudian tertarik untuk ikut membeli. Hello... be smart, people! Jangan hanya mengedepankan gengsi hingga mengesampingkan kesehatan diri sendiri.

Kembali lagi ke susu kental manis yang tidak ada kandungan susunya. Banyak sekali kaum ibu-ibu alias emak-emak menyayangkan adanya fakta tersebut. Mereka merasa tertipu dengan produk yang selama ini mereka konsumsi ternyata hanya mengandung gula saja. Banyak dari kaum ibu-ibu berdalih, bahwa anaknya sering dibuatkan susu tersebut. Kemudian rasa takut menyelimuti hati kaum ibu-ibu tersebut. Hal ini wajar, sebab seorang ibu pasti menginginkan hal terbaik untuk buah hati mereka.

Namun, jika kita berbicara fakta. Banyak sekali ibu-ibu yang justru menambahkan gula saat membuatkan susu untuk anak-anak mereka -dalam hal ini adalah susu bubuk. Bukankah ini juga berpengaruh pada kesehatan anak mereka juga? Coba cek kembali kebutuhan gula pada anak di bawah usia 5 tahun! Kemudian, berapa kali dalam sehari mereka membuatkan susu untuk anak-anak mereka? Apakah sudah seimbang? Atau bahkan berlebihan?

Hal inilah yang seharusnya digarisbawahi, terutama bagi ibu/calon ibu. Hal sepele yang banyak diabaikan, pengaruhnya sangat besar bagi kesehatan buah hati mereka. Selain itu juga secara umum adalah untuk para konsumen, coba cek kembali produk-produk yang sering kalian gunakan! Adakah yang janggal atau mungkin tidak sesuai?

Jangan melulu menyalahkan si Susu Kental Manis yang tidak ada kandungan susunya. Toh juga dari dulu nasi kucing tidak pernah kita temukan ada kucingnya (hehe...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar