Kamis, 05 Januari 2012

GAJAH: SALAM DAMAI DARI KAMI

            Merupakan tugas Deep Ecology with Mr. IGP Suryadharma di akhir semester 3, mata kuliah ini yang benar-benar membuat cara berpikir saya berubah 181 derajat 
*Thanks full buat Mr. IGP Suryadharma, Mr. Satino, Mr. Djuwanto*

           Miris memang mendengar banyak media yang memberitakan tentang konflik gajah dengan manusia. Salah satunya adalah pemberitaan di waspada online yang memberitakan tentang kawanan gajah yang merusak pertanian warga di daerah Banda Aceh, tidak hanya merusak namun juga mengejar dan membunuh penduduk sekitar yang mencoba menghalangi gajah tersebut. Selalu saja dalam berita tersebut ditulis dengan headline ‘Gajah Merusak’, ‘Kebun/Pertanian Dirusak Gajah’, atau “Gajah Mengamuk’. Singkat kata, sang Elephas maximus sumatranus atau gajah sumatera selalu mendapat peran antagonis dan diposisikan sebagai penjahat dalam skenario kerusakan yang ditulis dalam pemberitaan. Beberapa hal yang perlu dicermati disini, benarkah gajah yang merusak areal pertanian tersebut? Atau benarkah gajah yang menjadi pelaku utama dalam kerusakan areal pertanian warga tersebut?
            Manusia seringkali menyalahkan alam dan keadaaan yang menimpa dirinya, tanpa menyadari dan merenungkan dalam diri mereka sendiri “mengapa hal itu dapat terjadi kepada mereka?”. Sehingga dalam beberapa pemberitaan saya menemukan judul-judul yang cenderung memojokkan dan menyalahkan sekawanan gajah, seperti berikut:
§  Kawanan Gajah Liar Rusak Kebun Warga Rokan Hilir (berita.liputan6.com – 5 Mei 2011)
§  Delapan Hektare Kebun Sawit Dirusak Gajah (www.antaranews.com – 2 April 2011)
Seandainya saja sekawanan gajah tersebut memiliki kantor berita sendiri dan dapat mengutarakan apa yang mereka rasakan, mungkin judul- judul diatas akan diubah seperti berikut:
§  Kawanan Warga Rokan Hilir Rusak Kebun Gajah Liar
§  Delapan Hektare Rumah Gajah Dirusak Kebun Sawit
Namun sayangnya mereka hanyalah sekawan binatang yang tidak mampu berdemo apalagi protes, tak punya kuasa apapun walaupun tubuh mereka jauh lebih besar ketika tempat tinggal mereka dijajah oleh sekawanan manusia. Tentunya jika kita sebagai manusia mau merenungkan, sungguh kita ini merupakan golongan manusia-manusia egois yang mau menang sendiri tanpa mempedulikan lingkungan dan makhluk hidup lain yang juga hidup disekitar mereka, yang ingin dipahami dan diperhatikan layaknya teman atau sahabat. Manusia membutuhkan tempat tinggal, lahan pertanian, dan berbagai kebutuhan lainnya akan tetapi perlu kita ingat di lain sisi gajah juga membutuhkan hutan sebagai tempat tinggal, mencari makan, dan berkembang biak. Akan tetapi manusia terlalu serakah mengambil apa yang seharusnya menjadi hak dari sekawanan gajah tersebut, tempat tinggal gajah yang nyaman kini berubah menjadi pemukiman warga atau hutan yang dijadikan sebagai tempat mencari makan untuk gajah kini telah disulap oleh manusia menjadi perkebunan kelapa sawit. Satu lagi yang menunjukkan kekejian manusia yang menyulut kemarahan sang gajah, yaitu ketika mereka harus berhadapan manusia dengan suatu benda yang menimbulkan percikan api dan bunyi yang begitu keras hingga membuat salah satu anggota mereka merintih kesakitan dan meregang nyawa, dan dengan kasarnya mengambil gading mereka kemudian menjualnya ke pihak lain demi mendapatkan imbalan uang yang besar. Apakah ini masih dapat dikatakan sebagai ‘manusia’ dalam arti sebenarnya? Manusia yang mempunyai akal, pikiran, dan perasaan yang lebih tinggi derajatnya dari binatang. Hal ini sama dengan Gusti Allahe Dhuwit, Nabine Jarit” (pepatah Jawa) yang menggambarkan orang yang hidupnya hanya memburu uang atau harta benda, kemewahan, dan kenikmatan sehingga yang ada di dalam otak dan hatinya hanyalah bagaimana mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan hidup itu. Bahkan untuk mendapatkan itu semua ia rela melupakan segalanya, baik itu etika, moral, kebajikan, dan seterusnya. Tidak ada halangan apa pun sejauh itu semua ditujukan untuk mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan termasuk dalam hal ini adalah membunuh gajah demi mendapatkan gadingnya untuk dijual dengan iming-iming harga yang luar biasa tinggi. Apakah masih pantas gajah disebut sebagai pemeran antagonis disini? Tentu saja jawabannya TIDAK! Justru manusia lah yang selalu berperan antagonis dalam setiap kerusakan di bumi ini, manusia yang menyebabkan satu per-satu keindahan di bumi ini berubah menjadi neraka bagi makhluk hidup lain, manusia yang dengan serakahnya mengambil semuanya untuk kepentingannya sendiri.
Sebagaimana pepatah jawa mengatakan “Sopo Gawe Bakal Nganggo”, yang bermakna bahwa siapa pun yang membuat sesuatu dia sendirilah yang akan memakainya. Artinya, bahwa apa pun yang dilakukan seseorang, dia sendirilah yang akan bertanggung jawab. Atau dalam pepatah Jawa yang lain yaitu ”Ngundhuh Wohing Pakarti” yang bermakna sama dengan diatas. Hal ini sesuai, ketika manusia merusak lingkungan tempat tinggal, mengambil hak dari sekawanan gajah tersebut, maka jangan disalahkan jika sekawanan gajah tersebut akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak miliknya, karena itu tempat tinggal mereka, tempat mereka untuk hidup dan bertahan hidup, serta tempat mereka bercengkarama dengan sekawanannya yang lain. Gajah menjadi brutal dengan mengejar manusia dan tak sengaja membunuhnya bukan karena ingin balas dendam, tapi karena mereka tak ingin pembunuhan yang terjadi pada anggotanya terulang kembali. Jika saja gajah-gajah tersebut dapat berdemo layaknya yang dilakukan para mahasiswa di gedung DPR/MPR, gajah tersebut akan mengatakan “kami hanya ingin hidup tentram dan tenang tanpa gangguan, hidup tanpa ada yang mengusik tempat tinggal kami, taukah kalian hai (manusia) bahwa kami kelaparan karena hutan yang menjadi tempat kami untuk mencari makan telah kau ubah menjadi kawasan yang kami (gajah) pun tak tahu apakah itu?”. Sesungguhnya mereka hanya ingin hidup damai bersama manusia, dimana dapat saling menjaga lingkungan satu sama lain.
Dari sini, marilah kita sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang diciptakan mempunyai akal dan pikiran, serta diciptakan menjadi insan yang memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan makhluk lain; kita mulai membenahi sikap dan tingkah laku kita terhadap alam dan lingkungan sekitar. Selain itu mengubah cara berpikir kita yang cenderung egois menjadi berpandangan luas (dari berbagai sisi) termasuk dari sisi ekologi. Sisi ekologi yang tidak hanya menguntungkan manusia semata melainkan juga menguntungkan bagi lingkungan dan makhluk hidup disekitar kita. Sebab, setiap apapun yang kita lakukan di dunia ini maka kita juga yang akan merasakan dampaknya, dan tergantung apakah yang kita lakukan itu baik atau buruk.
“Semoga kita senantiasa menjadi makhluk Tuhan yang tak hanya cinta kepadaNya, namun juga cinta terhadap sesama...”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar